bila ku fikir kembali, ku renung lagi, terasa pula kebodohan diri. yang selama ini terasa serta berperasan sendiri akan dikasihi dan diambil berat orang. hah, macam 'syok' sendiri pula. tapi hakikatnya berlawanan dengan mimpi ini. indah sangat dibuai mimpi sehinggakan yang batil dihakkan dan yang salah diperbetulkan. sampai bila harus ku berperang dengan hati sendiri, terkapai-kapai menghidup udara yang adanya hanyalah separa nafas. tenggelam timbul dihanyuti air yang deras. bersusah payah untuk meneruskan hidup yang belum tentu dijanjikannya kebahagiaan untukku. aduh, perit benar ya jika disakiti hati oleh sang manusia yang dikasih?
apa boleh dibuat, aku yang salah. akulah yang menanggung. takkanlah pak cik di ladang yang tak tahu menahu menanggung sakit, mak cik di dapur yang tiadalah hikmahnya akan yang terjadi menumpang lara. kau yang cari fasal, kaulah yang menanggung kesan.
hati kalau dah suka, usah lagi disebutkan tak suka. nanti lagi bertambah tinggi harapannya. perasaan kalau dah cinta, usah lagi disebutkan benci. nanti bertambah tinggi pula impiannya. tapi kalau dah hati yang nak dikasihi, masakan pula diri bisa menyangkal? tidakkah sebegitu benarnya?
hati kalau dah dihiris berkali-kali, mana bisa disembuhkan lagi. sudah parah terbelah seratus. mana bisa dilekapkan semula. gam mana yang mampu mencamtumkannya lagi? intan kalau dah dihempas ke atas batu, mana bisa dicantumkan juga. sudah lerai berkecai hancur menjadi serpihan. mana bisa dibentukkannya semula.
penyesalan aku di saat akhir tak berguna. nasi sudah menjadi bubur. beras sudah habis dicair lembik. tak mampu lagi untuk keras kembali. tapi hakikatnya aku berkata, aku menyesal. aku menyesal seumur hidupku. berkorban untuk si dia yang tiadalah baiknya untuk aku. menaruh harapan pada orang yang tiadalah untungnya pada diriku. aku menyesal dan sesalanku akan berpanjangan. aku menyesal berada dalam mimpi ini.
Mimpi Indah Resort, tiada kaitan.
Related Posts

0 comments
Post a Comment